Donasi
Kajian ba'da Subuh
Open donasi, Siapkan donasi mu

Program Infaq

Salurkan bantuan Anda melalui program-program pilihan masjid.

Lihat Semua
5 Hari Lagi

Sedekah Makan Jumat Berkah

Terkumpul Rp 3.850.000
77%
Donasi Sekarang
15 Hari Lagi

Beasiswa Santri Penghafal Quran

Terkumpul Rp 12.500.000
63%
Donasi Sekarang
45 Hari Lagi

Pembangunan Area Parkir Jamaah

Terkumpul Rp 45.000.000
45%
Donasi Sekarang
Laporan Keuangan Khusus

Renovasi Masjid

Bantu kami dalam membiayai operasional dan dakwah rutin masjid.

Rp 24.239.437 16.2%
Terkumpul Target: Rp 150.000.000
BSI

No. Rekening BSI

Bank Syariah Indonesia (BSI)

Scan QRIS Infaq

"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)

Warta Terbaru

05 Apr 2026

Perayaan Shalat Idulfitri 1447 H di Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Merayakan 1 Syawal dengan penuh perenungan dan kebahagiaan, puluhan ribu jamaah memadati Masjid Istiqlal untuk menunaikan shalat Idulfitri 1447 H secara kenegaraan, Sabtu (21/3/2026). Sejak subuh, jamaah sudah memadati Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, takbir sahut-menyahut dikumandangkan. Pelaksanaan shalat Idulfitri 1447 H di Istiqlal diselenggarakan Bersama Wakil Presiden RI, jajaran Menteri Indonesia Maju, para duta besar negara sahabat, dan tokoh bangsa lainnya. Bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan shalat id yaitu Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Noorhadi Hasan, MA, M.Phil., Ph.D, dengan mengusung tema “Kemenangan Idulfitri Menyemai Kebaikan, Meraih Keberkahan”. Adapun Imam yang bertugas ialah Dr. KH. Ahmad Husni Ismail, MA dan Badal Imam: H. Ahmad Rofiuddin Mahfudz, SQ, M.Ag. Sementara itu, Bilal ialah Ust. Ustaz H. R. Harmoko, M.Pd, dan Ust. H. Ahmad Achwani, S.Ag. Menyambut pagi yang dipenuhi lantunan takbir, tahmid dan tasbih, dalam khutbahnya, Prof. Noorhadi Hasan mengingatkan bahwa Ramadhan mendidik umat muslim untuk menjadikan Alquran sebagai petunjuk dan pembeda antara benar dan salah, sekaligus mendidik kita menyempurnakan ibadah, mengagungkan asma-Nya dan menumbuhkan rasa syukur mendalam tercermin dalam sikap hidup yang adil, penuh kasih saying dan membawa kemaslahatan bagi bersama. Allah subhanahu wata'ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥ "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah ayat 185) Hari raya Idulfitri, lantunan tasbih dan tahmid yang menggema, bersahutan membahana memecah keheningan langit, diharapkan membawa hati dan jiwa kita semua pada rasa syukur riang gembira, bersalaman saling memaafkan. "Takbir, tasbih dan tahmid yang dikumandangkan, bukan sekedar suara yang bergema dari lisan, melainkan wujud syukur melaksanakan ibadah selama Ramadhan," terang Prof. Nurhadi. Ramadhan juga menjadi pengingat akan perintah Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya dalam QS. An-Nahl ayat 90, ۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS. An-Nahl: 90) "Ayat ini menjadi kompas moral bagi tata Kelola kehidupan Bersama, kita semua dituntut untuk adil dalam memimpin, jujur dalam bekerja, dan Amanah dalam menjalankan tanggung jawab.Sesungguhnya suatu bangsa tidak hancur karena kemiskinan, melainkan seringkali lumpuh karena kejujuran dan Amanah. Hilangnya kejujuran dan Amanah menjadi sebab rusaknya akhlak," tegasnya. Oleh karena itu Rasulullah SAw juga diutus untuk menyempurnakan akhlak, beliau SAW bersabda, "Innama bu'itstu li-utamMima makarimal akhlaq" (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia) [HR. Al-Baihaqi & Ahmad] "Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang benar-benar meraih kemenangan di hari yang mulia ini," pungkas Prof. Noorhadi. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Selengkapnya

05 Apr 2026

Perayaan Shalat Idulfitri 1447 H di Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Merayakan 1 Syawal dengan penuh perenungan dan kebahagiaan, puluhan ribu jamaah memadati Masjid Istiqlal untuk menunaikan shalat Idulfitri 1447 H secara kenegaraan, Sabtu (21/3/2026). Sejak subuh, jamaah sudah memadati Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, takbir sahut-menyahut dikumandangkan. Pelaksanaan shalat Idulfitri 1447 H di Istiqlal diselenggarakan Bersama Wakil Presiden RI, jajaran Menteri Indonesia Maju, para duta besar negara sahabat, dan tokoh bangsa lainnya. Bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan shalat id yaitu Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Noorhadi Hasan, MA, M.Phil., Ph.D, dengan mengusung tema “Kemenangan Idulfitri Menyemai Kebaikan, Meraih Keberkahan”. Adapun Imam yang bertugas ialah Dr. KH. Ahmad Husni Ismail, MA dan Badal Imam: H. Ahmad Rofiuddin Mahfudz, SQ, M.Ag. Sementara itu, Bilal ialah Ust. Ustaz H. R. Harmoko, M.Pd, dan Ust. H. Ahmad Achwani, S.Ag. Menyambut pagi yang dipenuhi lantunan takbir, tahmid dan tasbih, dalam khutbahnya, Prof. Noorhadi Hasan mengingatkan bahwa Ramadhan mendidik umat muslim untuk menjadikan Alquran sebagai petunjuk dan pembeda antara benar dan salah, sekaligus mendidik kita menyempurnakan ibadah, mengagungkan asma-Nya dan menumbuhkan rasa syukur mendalam tercermin dalam sikap hidup yang adil, penuh kasih saying dan membawa kemaslahatan bagi bersama. Allah subhanahu wata'ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥ "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah ayat 185) Hari raya Idulfitri, lantunan tasbih dan tahmid yang menggema, bersahutan membahana memecah keheningan langit, diharapkan membawa hati dan jiwa kita semua pada rasa syukur riang gembira, bersalaman saling memaafkan. "Takbir, tasbih dan tahmid yang dikumandangkan, bukan sekedar suara yang bergema dari lisan, melainkan wujud syukur melaksanakan ibadah selama Ramadhan," terang Prof. Nurhadi. Ramadhan juga menjadi pengingat akan perintah Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya dalam QS. An-Nahl ayat 90, ۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS. An-Nahl: 90) "Ayat ini menjadi kompas moral bagi tata Kelola kehidupan Bersama, kita semua dituntut untuk adil dalam memimpin, jujur dalam bekerja, dan Amanah dalam menjalankan tanggung jawab.Sesungguhnya suatu bangsa tidak hancur karena kemiskinan, melainkan seringkali lumpuh karena kejujuran dan Amanah. Hilangnya kejujuran dan Amanah menjadi sebab rusaknya akhlak," tegasnya. Oleh karena itu Rasulullah SAw juga diutus untuk menyempurnakan akhlak, beliau SAW bersabda, "Innama bu'itstu li-utamMima makarimal akhlaq" (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia) [HR. Al-Baihaqi & Ahmad] "Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang benar-benar meraih kemenangan di hari yang mulia ini," pungkas Prof. Noorhadi. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Selengkapnya

05 Apr 2026

Apa dan Siapa Virus Itu ?

KITA perlu menyadari bahwa semua alam semesta dan isinya berasal dari Allah SWT. Allah Mahacerdas, sudah barang tentu semua makhluk-Nya juga cerdas, termasuk manusia. Di antara berbagai virus yang sedang atau yang pernah mewabah di masyarakat hingga kini masih ada yang belum bisa ditemukan vaksin dan penyembuhannya. Dari mana datangnya virus itu, bagaimana proses penjangkitannya, dan bagaimana upaya penyembuhannya, masih sedang dilakukan riset intensif oleh para ahlinya. Di antara penyebab timbulnya epidemi menurut para ahli ialah, pertama, resistensi polusi organisme inang rendah atau jika peluang bagi patogen untuk pindah dari organisme inang yang satu ke organisme inang yang lain meningkat. Kedua, meningkatnya virulensi patogen antara lain sebagai akibat rendahnya resistensi (daya tahan tubuh manusia) seperti awal mula berjangkitnya epidemi influenza menyerang seluruh dunia pada 1918. Ia diduga sebagai akibat Perang Dunia I yang menyebabkan resistensi manusia pada waktu itu karena kurang dan rendahnya mutu pangan. Ketiga, epidemi suatu penyakit juga sering timbul sesudah terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, banjir besar, dan lain sebagainya. Di saat kita menunggu para ahli melakukan penelitian, ada baiknya kita menengok bagaimana Alquran dan isyarat-isyarat Alquran tentang epidemi. Di dalam Alquran setidaknya ada tiga kasus epidemi yang diceritakan di dalamnya. Perilaku virus (epidemi) ternyata sudah diungkap di da lam Alquran. Sejumlah peristiwa mengerikan telah diungkap di dalam Alquran. Yang dapat dihubungkan dengan epidemiologi ialah kasus pemusnahan kaum Nabi Shaleh dengan virus yang diduga berasal dari sapi ajaib yang disembelih raja. Demikian pula kasus epidemi yang menimpa kaum Thalut dan Jalut, serta epidemi yang menghancurkan pasukan Raja Abrahah, sebagaimana digambarkan dalam QS Al-Fil. Ketiga kisah dalam Alquran tersebut menarik untuk dikaji. Pertama, kisah musnahnya Bani Tsamud, sebuah rezim penguasa yang digambarkan di dalam 26 ayat Alquran dan sejumlah hadis Nabi sebagai penguasa yang amat anarkistis. Dikisahkan bahwa Nabi Shaleh diutus Allah kepada kaum Tsamud supaya menyembah hanya kepada Allah dan meninggalkan kezaliman serta tradisi penyembahan berhala nenek moyang mereka. Namun, Raja Tsamud menantang Nabi Shaleh dengan mengatakan, ?Jika engkau seorang nabi atau rasul, perlihatkanlah tanda bukti kebenaranmu (dalam bentuk mukjizat).? Permintaan Tsamud dan para pembesarnya sangat tidak masuk akal. Mereka meminta Nabi Shaleh mengeluarkan unta raksa sa yang sedang hamil dari lubang batu kecil dalam keadaan hidup. Kita sebaiknya tidak boleh sombong sebagai manusia atau sebagai khalifah karena makhluk kecil Tuhan, yang karena begitu kecilnya tidak bisa dilihat dengan mata kepala, membuat anak manusia di zaman modern ini lumpuh total. Tidak ada artinya produk senjata nuklir negara-negara adidaya menghadapi covid-19 ini. Betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT. Sadarlah kita semua agar selalu hidup di atas rel yang digariskan Tuhan. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Sumber : Media Indonesia

Selengkapnya

Momen Masjid